Religion
KH Kholil Ridwan: Begitu
bom meledak di Bali Oktober lalu, yang disusul dengan munculnya video
rekaman para aksi bom bunuh diri yang mengaku sengaja melakukannya atas
nama 'jihad'. tiba-tiba saja dunia pesantren menjadi tersandera. Aneka
wacana bermunculan dalam kaitan pengawasan pesantren. Dan gongnya,
adalah perlunya pengambilan sidik jari bagi semua siswa pesantren. ''Kalau
saya kasih komentar, ini artinya ada ketidakadilan publik terhadap
pesantren. Kenapa misalnya, para alumni Universitas Indonesia (UI) yang
menjadi koruptor, sebut misalnya, Ketua KPU Nazaruddin Syamsuddin,
ditahan karena dianggap korupsi, tapi kok UI tidak dikatakan sebagai
sarang koruptor,'' ujar Ketua Majlis Pimpinan Badan Kerja Sama Pondok
Pesantren Indonesia (BKSPPI), KH Kholil Ridwan. Padahal, kata
dia, pesantren termasuk ikut melahirkan Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) dan berperan besar terhadap kehiduban bangsa
Indonesia. Namun, ia tidak menganggap serius upaya-upaya memojokkan
pesantren seperti itu. ''Yang terpenting, bagaimana para
pimpinan dan pengasuh pesantren bisa menjelaskan kepada para wali
santri bahwa semua wacana itu adalah fitnah dan tidak benar. Ini
strategi musuh-musuh Islam yang sedang mengobok-obok pondok
pesantren,'' ujarnya. Kepada Damanhuri Zuhri dari Republika,
ia menguraikan peran sosial pesantren dalam kaitan kehidupan berbangsa
dan bernegara. Berikut ini wawancara dengan salah seorang Ketua Majelis
Ulama Indonesia (MUI) yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Al Husnayain,
Pasar Rebo, Jakarta Timur, ini. Kabarnya ada rencana pengawasan terhadap pesantren, termasuk perubahan kurikulumnya. Betulkah demikian? Terkait terorisme, ada stigmatisasi terhadap pesantren. Bagaimana Anda memandang hal ini? Bagimana kiprah pesantren sebetulnya? Kalau begitu, sangat ironis jika kemudian Ponpes dianggap malah mau menghancurkan negara dengan aksi terornya? Bagaimana antisipasinya agar masyarakat tidak fobia terhadap pesantren? Gara-gara informasi seperti ini banyak orang jadi ketakutan memasukkan anaknya ke ponpes, Anda mendengarnya? Ada informasi terakhir, untuk ngajar di Ponpes di Jawa Barat, harus mendapat izin pihak kepolisian, bagaimana ini? Sebenarnya, seberapa besar peran pesantren terhadap kehidupan bangsa ini? Anda mengambil banyak pelajaran dari gonjang-ganjing pesantren belakangan ini?
'Ada Ketidakadilan terhadap Pesantren'
( )
Ada klarifikasi dari Menteri Agama bahwa dia tidak mau mencampuri
kurikulum Pondok pesantren (Ponpes). Kapolri juga sudah membuat
pernyataan tidak akan ada sidik jari terhadap santri-santri, Wapres
Jusuf Kalla juga sudah. Atau memang sudah begitu pakem menjadi
pejabat; (setelah terjadi pro-kontra) kemudian mengatakan tidak, bukan
begitu maksudnya, dan sebagainya. Tapi, memang harus ada gerakan umat
Islam khususnya para tokoh dan pengasuh pondok pesantren untuk
menentang hal itu. Apakah itu hanya coba-coba, apalagi jika sungguhan.
Saya banyak sekali menerima SMS supaya menolak secara tegas rencana
Polri untuk melakukan sidik jari terhadap santri ponpes.
Saya kira kalau pesantren itu yang mengajarkan terorisme, aksi-aksi
teror sudah ada sejak dulu. Sebelum Indonesia merdeka sudah ada
pesantren. Pendidikan di pesantren sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun
sebelum ada tragedi WTC, disusul bom Bali I, lalu bom Bali II. Kenapa
pada saat ada alumni pesantren yang cuma segelintir orang menjadi
terdakwanya, lantas pesantrennya yang dicurigai.
Justru Ponpes itu ikut melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI) yang dibayar dengan darah dan nyawa. Lihat saja peristiwa 10
Nopember, yang dijadikan sebagai Hari Pahlawan. Bung Tomo (pejuang
Surabaya yang menjadi tokoh peristiwa itu) menggunakan jargon-jargon
ponpes, antara lain dengan pekik takbir di RRI, para santri dan pemuda
alumni ponpes bergerak semua untuk berjihad melawan tentara sekutu yang
begitu kuat sampai Jenderal Malaby tewas dalam pertempuran itu. Sebelum
itu kita mengenal tokoh-tokoh Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku
Umar, Cut Nyak Dien, dan lainnya, semuanya mereka mengorbankan ruhul jihad (semangat jihad, red) yang itu sebetulnya ajaran Islam. Dan, ruhul jihad itu yang menjadikan ponpes berjuang untuk mengusir penjajah sehingga bangsa Indonesia merdeka.
Ya, sangat naif. Dan itu menyakiti hati umat Islam. Berarti pemerintah atau penguasa akan buka front,
bukan menyelesaikan masalah. Kalau ponpes dituduh, justru akan
menimbulkan masalah baru. Yang dituduh itu bukan lembaganya, harusnya
oknumnya; kebetulan dia alumni Ponpes. Kalau Ponpesnya, pemerintah
seharusnya berterimakasih kepada ponpes. Kalau seandainya ponpes
ditutup, diperlakukan semena-mena, kalau misalnya hitung-hitungannya
sampai kemudian ponpes ditutup semua, pemerintah mau membangun sekolah
sebanyak 17 ribu sebagai gantinya ponpes, dari mana dananya?
Saat ini ada usaha untuk meluruskan makna jihad. Sekarang sedang dibuat
konsep jihad yang seutuhnya oleh Tim Penanggulangan Terorisme (TPT).
Tim itu nanti ditugaskan untuk meneliti beberapa ponpes yang dicurigai.
Ini akan dijadikan bahan oleh aparat pemerintah dan juga dijadikan
bahan oleh pimpinan ponpes bahwa jihad yang benar itu seperti apa, dan
bahwa bom bunuh diri itu bukan jihad. Saya kira memang harus ditangani
secara mendasar. Kalau saya mengambil hikmahnya, bahwa dengan adanya
kasus bom bunuh diri, kemudian adanya rencana over acting mau mengambil sidik jari segala, maka masyarakat akan penasaran dan terdorong untuk mencari definisi jihad yang benar.
Ya, ini sisi negatifnya yang harus kita luruskan. Hikmahnya, orang jadi
mau mempelajari makna jihad, kemudian ponpes akan mengajarkan santrinya
bahwa jihad yang benar itu kaya apa. Dan nanti Ponpes jadi
lebih hati-hati dalam sepak terjangnya di masa yang akan datang dan
masyarakat akan mengerti bahwa pesantren itu bukan sarang teroris.
Kalau pun ada satu-dua ponpes yang menyalahgunakan, masyarakat akan
tahu. Jadi, kalau masyarakat takut memasukkan anaknya di ponpes
tertentu yang memang dicurigai karena hal itu, ndak apa-apa, logis saja sebagai konsekuensi satu gerakan.
Inilah salah satu sikap tindakan di bawah, bukan Kapolrinya. Di bawah ini ada yang over acting.
Jadi, instuksi dari atas hijau muda, di bawah menjadi hijau tua. Kalau
misalnya pengawasan bukan hanya pesantren tapi semuanya. Tapi, kalau
belum apa-apa sudah diomongin ponpes mau diawasi, santrinya disidik
jari, jadi bukan kerjaan intel. Kalau intel hanya mengawasi tapi punya
target lain. Ada yang mengatakan ada grand design, bisa saja
dari luar secara tidak sadar, kita terbawa oleh irama desain itu.
Apakah kita dalam artian pemerintah, aparat, atau memang ada oknum di
aparat yang memancing di air keruh. Ada yang sambil menyelam minum air.
Ingat, republik ini berhutang kepada ponpes. Lihat saja, anak didik
alumni ponpes tidak pernah tawuran, pergaulan bebas, hidup sederhana,
tahan banting. Kalau pun dia menjadi aparat, pegawai negeri, lebih
dekat kepada kejujuran, walapun ada beberapa oknum yang akhirnya ikut
arus juga. Tapi, Ponpes itu fungsinya untuk pembangunan bangsa dan
negara serta pembangunan generasi yang akan datang itu sangat besar.
Ya. Saya menghimbau, para pimpinan dan pengasuh ponpes atau masyarakat
pesantren, perlu waspada. Tapi, jangan sampai isu terorisme ini belum
apa-apa pak kiainya sendiri yang ketakutan. Perlu juga memberikan
penjelasan-penjelasan kepada wali-wali santri ini adalah fitnah, tidak
benar, ini strategi musuh-musuh Islam yang sedang meng-obok-obok Ponpes. Untuk pihak keamanan mohon untuk tidak over acting.
Kalau memang ada satu dua ponpes yang mau diselidiki, lakukanlah, tapi
jangan membuat orang jadi alergi terhadap pesantren. Dari dulu Ponpes kan
banyak yang diawasi dan hasilnya tidak pernah diumumkan. Apalagi
sekarang ada Tim Penanggulangan Terorisme. Apabila menginginkan sesuatu
tentang Ppnpes, bisa koordinasi dengan tim ini, tidak langsung masuk ke
ponpes.

Comments